Jadilah Dirimu Sendiri

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Syalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Halo perkenalkan namaku Muhammad Erliansyah Putra, kalian bisa panggil aku Putra, namun teman-teman yang sudah akrab denganku memanggilku dengan nama Boy. Aku lahir di Surabaya pada 18 tahun yang lalu, yaitu tahun 2002. Pada kelas 4 SD, aku pindah dari kota Surabaya ke kota Sidoarjo hingga saat ini. Baik di Surabaya ataupun di Sidoarjo, aku menemukan banyak cerita yang menurutku cukup menarik dan banyak membawa pelajaran untuk dikenang. Sekarang aku tinggal bertiga bersama ibuku dan kakakku, karena pada tahun 2018 lalu, ayahku telah meninggal dunia. Aku memiliki hobi berolahraga dan traveling ke tempat-tempat menarik khususnya yang bernuansa alam. Jadi kalau ada suatu kesempatan, boleh lah kita untuk traveling bareng hehe. Oke, aku rasa itulah biodata secara singkat dariku.

Pada kesempatan kali ini, aku akan berbagi cerita dan mungkin sedikit pengalaman hidupku kepada kalian, tentang bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri atau biasanya orang-orang menyebutnya dengan Be Yourself. Sebenarnya, pada usiaku yang terbilang masih menginjak remaja ini juga masih perlu banyak belajar tentang bagaimana caraku memahami diri, apa saja yang kelebihan yang aku dalam diriku, bagaimana caranya agar aku tidak mudah insecure terhadap orang lain yang aku rasa dia lebih unggul dariku. Ya, karena tidak jarang pada usia remaja ini kita masih sering labil, gampang terbawa arus, dan lain sebagainya. Menurutku, wajar kita yang masih remaja ini seringkali begitu, karena kita ini masih dalam tahap berproses, masih harus terus mencari mana yang benar dan mana yang salah dari diri kita. Ibarat jika dalam hal makanan, kita ini masih dalam proses memasak dan masih menyesuaikan mana bumbu yang cocok untuk makanan tersebut agar menjadi makanan yang enak. Oleh karena itu, aku pernah mendapatkan quote dari salah satu guruku, yang bunyi nya “di usia remaja, kalian berani melangkah, walaupun ternyata itu salah, kerena semakin banyak kesalahan yang kalian lakukan pun juga nantinya semakin banyak pula kebenaran yang kalian tahu”. Terkadang dari situ juga akhirnya aku berani melangkah dan mengetahui sejauh mana kemampuan yang aku miliki saat ini.

Bagi sebagian orang yang masih berusia remaja, menjadi diri sendiri terkadang memang tidaklah mudah. Seringkali jika pada saat kita memandang si A, kita ingin menjadi si A, pada saat memandang si B, kita ingin menjadi si B, begitu seterusnya. Menurutku sebenarnya hal itu tidak selalu buruk, jikalau itu kita lakukan sebagai motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan kita dalam melakukan sesuatu. Namun bagaimana jika hal itu malah membuat kita insecure dan merasa tidak bisa menjadi hebat? Bagaimana jika hal itu malah membuat kita untuk memaksakan sesuatu? Itu yang akan menjadi masalah. Dulu, aku juga pernah melakukan hal itu. Ketika aku melihat seseorang, sebut saja X, aku merasa ingin menjadi X. Setiap kali aku melihat X melakukan sesuatu, aku selalu menirunya. Alasannya sebenarnya cukup simple dan lucu, aku hanya terlihat keren jika aku menjadi dirinya. Dan pada akhirnya terkadang aku memaksakan diriku untuk menjadi seperti X. Lalu semakin lama aku merasakan sendiri efeknya, aku merasa seperti tertekan karena aku memaksakan sesuatu. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa aku hanya akan merasa tidak nyaman sendiri jika aku menjadi orang lain, aku hanya membuang-buang waktuku saja akan hal itu. Aku sadar bahwa bukan begitu cara untuk menjadi keren (yang mana merupakan tujuan ingin menjadi si X), justru menjadi diri sendiri dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki, itu adalah arti keren dan hebat yang sebenarnya.

Kalau kata orang Jawa, Sawang Sinawang namanya. Jadi ketika kita melihat sesuatu pada diri seseorang, yang kita rasakan memang terlihat bagus dan sepertinya enak jika menjadi seperti itu. Padahal belum tentu apa yang kita lihat dan rasakan juga dirasakan oleh orang tersebut, bisa saja malah kebalikannya karena kita tahu apa yang dia rasakan. Maka dari itu, lebih baik kita belajar menjadi diri sendiri, sayangi diri kita sendiri. Semua orang itu hebat dalam tempatnya masing-masing, tanamkan itu dalam diri kita. Boleh saja kita kagum terhadap seseorang, namun janganlah kita sampai meniru apa saja yang dia lakukan, cukup hanya sebagai panutan saja untuk motivasi kita agar terus berkembang. Lebih banyak beryukur terhadap apa yang kita miliki daripada harus mengeluh. Aku katakan sekali lagi, semua orang itu hebat dalam tempatnya masing-masing, jadi sayangilah diri kita sendiri dengan apa yang sudah ada sekarang. Aku juga ingat kata-kata dari salah satu karakter yang ada di serial Naruto, yang mana dia berkata “aku ya aku, kau ya kau. Soal siapa yang lebih hebat, itu adalah hal yang membosankan”. Ya, itu benar, membosankan jika kita terus menerus memikirkan siapa yang lebih hebat diantara. Memang bagi sebagian orang hidup ini adalah bagaikan kompetisi. Namun, hidup itu juga pilihan, dan menjadi diri sendiri sekalipun berbeda dari yang lain itu juga merupakan pilihan. Oke aku rasa cukup sekian cerita singkat dariku tentang menjadi diri sendiri. Maaf apabila cerita ini membosankan, karena ya memang begini adanya diriku hehe. Tetap semangat dan be yourself kawan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Om Santi-Santi Om.

Komentar

Posting Komentar